Bandung – Penasakti.com // Suara deru mesin tua memekik di tengah kepulan asap hitam. Di jalur padat Garut menuju Bandung, sebuah mobil angkutan umum jenis Elf terlihat melaju kesetanan.
Tubuhnya yang keropos terombang-ambing, membelah jalanan, dan memaksa masuk di antara deretan kendaraan angkutan modern yang jauh lebih mulus.
Bagi para penumpang setianya, naik Elf jurusan ini adalah ujian nyali. Masuk ke dalam kabinnya, para penumpang tidak akan disuguhi alunan musik pemutar panggung jalanan.
”Ekstrim juga sih, tapi ya memang udah dari dulu seperti ini”, ujar salah satu penumpang Senin ( 20/07/2026 ).
Hiburan tunggal di dalam armada ini adalah konser monoton dari bunyi bising besi tua. Suara baut-baut kendor, pintu yang bergetar hebat, dan sambungan sasis yang bergoyang tanpa henti menjadi pengiring sepanjang perjalanan.
Namun, di tangan para pengemudi yang lincah keterbatasan fisik mobil ini seolah sirna. Mereka berpacu dengan waktu. Di jalan tol, kendaraan rentan ini melenggak-lenggok ekstrem, zig-zag mencari celah sekecil apa pun demi mendahului kompetitornya.
Rem yang menjerit keras setiap kali diinjak mendadak menjadi bukti betapa tipisnya jarak antara keselamatan dan petaka.
Di balik aksi teatrikal jalanan yang mengerikan ini, sebuah pertanyaan besar dan tajam menyeruak ke permukaan, bagaimana mungkin armada yang secara kasat mata tidak layak jalan ini bisa lolos uji KIR di dinas terkait?
Logika publik dipaksa berputar. Apakah proses pengujian kelaikan kendaraan bermotor (KIR) di dinas perhubungan benar-benar dilakukan secara ketat, ataukah ada mata yang tertutup oleh selembar rupiah?
Jika uji emisi, fungsi rem, ketahanan sasis, dan kaki-kaki kendaraan diperiksa dengan jujur, mungkinkah besi tua yang bergetar hebat ini diizinkan mengaspal secara legal?
Ini bukan sekadar urusan persaingan bisnis angkutan atau sopir yang mengejar setoran. Ini adalah urusan kemanusiaan yang sangat mendasar.
Setiap harinya, puluhan armada Elf tua ini mengangkut ratusan nyawa. Mereka adalah para pekerja, pedagang, dan buruh yang sedang berjalan menjemput rezeki demi menghidupi keluarga di rumah.
Setiap lembar rupiah yang mereka bawa pulang dipertaruhkan di atas kursi penumpang yang reyot. Dinas terkait tidak boleh diam dan menutup mata.
Membiarkan armada tak layak lolos uji KIR sama saja dengan melegalkan mesin pencabut nyawa berkedok angkutan umum di jalan raya.
( Penulis: Agus YL )
Berpacu Maut di Jalur Garut-Bandung: Menantang Nasib di Balik Kemudi Elf Tua
admin penasakti20 Juli 20260 views2 menit baca

