Breaking
▸ Pemerintah Umumkan Kebijakan Baru Ekonomi Digital 2026▸ Indonesia Juara SEA Games Cabang Badminton▸ Harga BBM Turun Mulai Besok▸ KPK Tangkap Tersangka Korupsi Dana Desa▸ Pemerintah Umumkan Kebijakan Baru Ekonomi Digital 2026▸ Indonesia Juara SEA Games Cabang Badminton
Sejarah

Gendhing Raja Manggala Iringi Sultan HB X Temui Pendemo Jogja

Admin31 Agustus 20250 views2 menit baca
Gendhing Raja Manggala Iringi Sultan HB X Temui Pendemo Jogja

Yogyakarta // Penasakti.com – Gendhing Raja Manggala yang memiliki kesakralan dalam tradisi Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat, mengiringi Sri Sultan Hamengku Buwono X yang sekaligus sebagai Gubernur menemui massa aksi di halaman Mapolda DIY pada Sabtu (30/8/2025).

Gendhing Raja Manggala Iringi Sultan HB X Temui Pendemo Jogja
Gendhing Raja Manggala Iringi Sultan HB X Temui Pendemo Jogja

Kedatangan Sultan dengan iringan Gendhing Raja Manggala tersebut sebagai suatu simbol bahwa yang datang bukanlah Gubernur DIY melainkan sosok penguasa yakni Raja Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat.

‎Dikutip dari kratonjogja.id, Gendhing Raja Manggala merupakan musik dari tabuhan gamelan yang menjadi bagian sakral dalam tradisi keraton, khususnya sering diperdengarkan saat Sri Sultan keluar menemui tamu agung atau tamu kerajaan.

‎Gendhing Raja Manggala bukan sekedar musik biasa, namun penyajiannya menandakan kewibawaan dan keagungan raja. Gending ini juga mengandung nilai – nilai kerajaan yang menjaga adat dan budaya yang membawa nuansa kedamaian, kewibawaan dan ketenangan.

‎Saat Sri Sultan HB X menemui massa dengan diiringi Gendhing Raja Manggala, artinya, itu merupakan sebuah pesan bahwa sang raja keraton mengutamakan ketenangan hati rakyat dengan dialog sebagai satu-satunya jalan menyelesaikan sebuah konflik.

‎Gendhing Raja Manggala yang biasanya hanya terdengar di Keraton Yogyakarta kini mengalun di ruang publik, menjadi simbol bahwa Sultan hadir bukan hanya sebagai pemimpin adat, melainkan juga Gubernur DIY yang siap mendengarkan aspirasi rakyat.

‎Simbol Pemimpin dan Peneduh
‎Ketika massa mahasiswa dan ojol bertahan dengan berbagai tuntutan, mulai dari pembebasan rekan yang ditahan hingga jaminan perawatan korban luka, Sultan datang dan berdialog langsung dengan perwakilan demonstran dan berjanji akan meneruskan aspirasi tersebut ke pemerintah pusat.

‎Kehadiran Sultan yang diiringi Gendhing Raja Manggala ini kemudian dimaknai banyak pihak sebagai simbol peneduh di tengah panasnya situasi.

‎Gendhing Raja Manggala yang biasanya dimainkan untuk menyambut tamu kerajaan, kali ini alunan gamelan seakan menegaskan bahwa rakyat adalah tamu agung yang juga perlu didengar aspirasinya.

‎Antara Tradisi dan Dinamika Sosial
‎Momen di Mapolda DIY memperlihatkan bagaimana tradisi keraton tetap hidup dan mampu menyesuaikan diri dengan dinamika sosial masyarakat.

‎Gendhing Raja Manggala yang mengiringi langkah Sultan tidak hanya menghadirkan aura kebesaran, tetapi juga menyampaikan pesan budaya, bahwa seorang raja atau pemimpin hadir untuk rakyatnya, bahkan dalam suasana ricuh sekalipun.

‎(Penulis: Agus Yuliantoro)