Polemik Geothermal Menjadi Isu Hangat dan Kontroversial
Penasakti.com || Geothermal di kawasan Gunung Gede Pangrango Jawa Barat merupakan isu yang cukup hangat dan kontroversial.
Ketua DPD paguyuban seni budaya satria Sunda sakti dan ketua gerakan cinta prabowo.08 Rudy Januar Susafha,AMD,S.Pd,SE,M.Si,
Angkat bicara akan dampak lingkungan jika proyek panas bumi (geothermal) di Gunung Gede, yang dikenal WPSPE (Wilayah Potensi Sumber Daya Panas Bumi) Cipanas :
1. Potensi Energi
* Potensi Besar : Indonesia, terutama Jawa Barat yang dilalui cincin api, memiliki potensi panas bumi yang sangat besar.
Gunung Gede Pangrango adalah salah satu area yang memiliki potensi energi panas bumi untuk dikembangkan.
* Data ESDM : Data Kementerian ESDM mencatat potensi panas bumi di Wilayah Potensi Sumber Daya Panas Bumi (WPSPE) Cipanas (meliputi area Gede Pangrango) adalah sekitar 85 MWe (Megawatt-electric) untuk cadangan.
* Tujuan Proyek : Pemanfaatan geothermal ini digencarkan sebagai langkah strategis untuk diversifikasi energi,
Mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, dan memperkuat ketahanan energi nasional.
2. Isu dan Penolakan Warga
Meskipun bertujuan untuk energi bersih, proyek ini menghadapi penolakan yang masif dan berkelanjutan dari warga lokal, aktivis lingkungan, dan berbagai elemen masyarakat.
Kekhawatiran utama meliputi :
* Ancaman Mata Air:
Kawasan Gunung Gede merupakan hulu ratusan mata air jernih yang menjadi sumber air bagi masyarakat di Cianjur, Sukabumi, Bogor, bahkan Jakarta.
Warga khawatir proses eksplorasi dan eksploitasi panas bumi akan merusak atau mencemari sumber-sumber air ini.
* Kerusakan Lingkungan & Ekosistem :
Proyek ini berada di dalam atau dekat dengan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).
Dikhawatirkan aktivitas pengeboran dan infrastruktur akan merusak ekosistem hutan dan bentang air.
* Ancaman Bencana : Warga trauma dengan riwayat gempa bumi (seperti gempa Cianjur 2022) dan khawatir proyek geothermal dapat mengganggu instabilitas tanah serta memperburuk kerentanan di zona rawan bencana.
Gunung Gede sendiri merupakan gunung api aktif.
* Konflik Sosial : Isu kurangnya transparansi, dugaan intimidasi, dan kekhawatiran hilangnya mata pencaharian (terutama bagi petani) juga menjadi pemicu penolakan.
3. Perkembangan Terbaru
* Meskipun mendapat penolakan, proyek ini dilaporkan terus berlanjut. Tahapan eksplorasi ditargetkan untuk dimulai pada pertengahan hingga akhir tahun 2024.
* Aksi-aksi unjuk rasa dan penolakan warga terus berlangsung, termasuk mendatangi kantor Bupati Cianjur untuk menagih janji penolakan terhadap proyek tersebut (laporan per Desember 2025).
Pada intinya disampaikan oleh Rudy geothermal Gunung Gede adalah sebuah dilema antara kebutuhan energi nasional yang bersih dan mendesak.
Selain itu melawan hak hidup masyarakat lokal, perlindungan lingkungan, dan risiko bencana di kawasan konservasi vital.
(Red Penasakti.com)

