Parahyangan Jabar || Penasakti.com – Mungkin publik bertanya apa arti “Kakawih kosmologis Sunda” adalah (Nyanyian atau Lagu – lagu Rakyat)

Akan tetapi bukanlah sekadar lagu hiburan semata, melainkan tembang atau syair yang memuat pandangan hidup (falsafah). Asal-usul alam semesta.
“Dan hubungan sakral antara manusia, alam, dan Gusti (Tuhan/Hyang).
Dalam kebudayaan Sunda,”.
“kosmologi” sering kali tersirat dalam lirik-lirik yang simbolis (siloka).
Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai konsep, struktur, dan contoh kakawihnya.
1. Inti Kosmologi Sunda dalam Kakawih
Secara umum, kakawih kosmologis merefleksikan tatanan semesta yang dibagi menjadi tiga dunia (Tri Buana) :
* Buana Nyungcung (Dunia Atas):
Tempat bersemayamnya Hyang atau kekuatan ilahi (Niskala).
* Buana Panca Tengah (Dunia Tengah): Dunia manusia dan alam nyata tempat kita hidup (Sakala).
* Buana Larang (Dunia Bawah): Dunia kematian atau asal mula yang belum mewujud.
Tujuannya adalah mengingatkan manusia agar selalu eling (sadar) akan asal-usul (wiwitan) dan tujuan akhir (wekasan).
2. Contoh Utama: Rajah Pantun Sunda
Bentuk paling murni dari kakawih kosmologis adalah Rajah.
Ini adalah nyanyian sakral pembuka pertunjukan Pantun Sunda yang isinya meminta izin kepada penguasa alam semesta dan leluhur.
Contoh Penggalan Lirik Rajah (Bubuka) :
“Bul kukus mendung ka manggung,
> Ka manggung neda papayung,
> Ka dewata neda suka,
> Ka pohaci neda suci…”Makna Kosmologis :
* Kukus (Asap Hio): Simbol konektor antara manusia (Bumi) dan Langit (Hyang).
* Ka Manggung (Ke Atas): Menunjukkan orientasi vertikal manusia menuju Buana Nyungcung (Tuhan).
* Pohaci: Representasi kekuatan alam/kesuburan yang menjaga keseimbangan hidup di Buana Panca Tengah.
3. Contoh Populer: Cing Cangkeling
Banyak orang mengira “Cing Cangkeling” hanya lagu permainan anak, padahal syair ini mengandung makna spiritual/kosmologis yang dalam tentang “Manusia Sejati”.
Lirik:
> “Cing cangkeling manuk cingkleung cindeten
> Plos ka kolong bapa satar buleneng”
>
Tafsir Kosmologis/Filosofis:
* Cing Cangkeling: Eling-eling (ingatlah) manusia, sadarlah.
* Manuk Cingkleung: Simbol “Jiwa” atau “Ruh” yang sedang hinggap di dalam raga manusia.
* Cindeten: Diam/tenang (meneguhkan hati).
* Plos ka kolong: Masuk ke kolong langit (dunia).
* Bapa Satar Buleneng: Satar artinya dunia/tanah, Buleneng artinya terang benderang. Bermakna: Jiwa yang tenang akan menemukan jalan terang (ilahi) di dunia ini.
4. Konsep Tritangtu dalam Tembang
Dalam tembang-tembang Cianjuran atau kawih buhun, sering juga diselipkan konsep Tritangtu (Tiga Ketentuan) yang menjaga keseimbangan kosmos:
* Tekad (Niat/Hati)
* Ucap (Perkataan)
* Lampah (Perbuatan)
Contoh dalam lirik “Papatet” (Tembang Sunda Cianjuran) sering kali menggambarkan kesedihan atau perenungan mendalam manusia di tengah alam sunyi.
Sebagai bentuk “Sangkan Paraning Dumadi” (merenungi dari mana dan mau ke mana manusia pergi).
(Rudy Januar)

