Breaking
▸ Pemerintah Umumkan Kebijakan Baru Ekonomi Digital 2026▸ Indonesia Juara SEA Games Cabang Badminton▸ Harga BBM Turun Mulai Besok▸ KPK Tangkap Tersangka Korupsi Dana Desa▸ Pemerintah Umumkan Kebijakan Baru Ekonomi Digital 2026▸ Indonesia Juara SEA Games Cabang Badminton
Universitas

KKN Pemda ORDA IPMAKAB UIN Bandung Melaksanakan Refleksi Sosial dan Sosialisasi Awal dalam Rembuk Warga di RW 13, Kp. Cisurili

Admin27 Juli 20250 views5 menit baca
KKN Pemda ORDA IPMAKAB UIN Bandung Melaksanakan Refleksi Sosial dan Sosialisasi Awal dalam Rembuk Warga di RW 13, Kp. Cisurili

Penulis Fikri

Kab bandung // Penasakti.com – Bertempat di RW 13, Kp. Cisurili, Desa Pangalengan, Kabupaten Bandung, tempat ini menjadi titik awal pelaksanaan berbagai kegiatan penting yang dilakukan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik berbasis pendekatan Sistem Pengorganisasian dan Pemberdayaan Masyarakat (SISDAMAS).

KKN Pemda ORDA IPMAKAB UIN Bandung Melaksanakan Refleksi Sosial dan Sosialisasi Awal dalam Rembuk Warga di RW 13, Kp. Cisurili
KKN Pemda ORDA IPMAKAB UIN Bandung Melaksanakan Refleksi Sosial dan Sosialisasi Awal dalam Rembuk Warga di RW 13, Kp. Cisurili

Di awal masa pengabdian, mahasiswa menyelenggarakan beberapa agenda seperti sosialisasi awal, rembuk warga, dan refleksi sosial.

Seluruh kegiatan ini merupakan bagian dari tahap pertama dalam pendekatan SISDAMAS, yang tujuannya adalah memahami kondisi sosial masyarakat setempat sekaligus menjalin komunikasi awal yang baik.

Melalui proses ini, mahasiswa dapat mulai mengenal kebutuhan serta potensi yang ada di lingkungan tersebut, yang nantinya menjadi dasar dalam menyusun program-program pemberdayaan yang lebih tepat sasaran dan melibatkan partisipasi aktif warga.

Acara ini dihadiri oleh 20 warga, yang terdiri dari Bapak dan Ibu RT, Ibu PKK, serta pemuda Karang taruna yang memili perang yang penting dalam pembangunan dusun.

Kegiatan ini yang seharusnya dihadiri oleh kepala RW tetapi beliau berhalangan hadir yang diwakilkan oleh ketua RT 04, yaitu Bapak Engkos Koswara, yang turut memberikan sambutan hangat kepada seluruh peserta.

Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi atas inisiatif program yang akan dijalankan oleh mahasiswa KKN.

Kehadiran dan dukungan dari tokoh masyarakat seperti beliau menunjukkan adanya penerimaan positif dari warga terhadap keberadaan mahasiswa, sekaligus menjadi motivasi awal bagi mahasiswa untuk menjalankan program pengabdian dengan penuh semangat dan tanggung jawab.

Dalam sambutannya, Bapak Engkos Koswara menekankan pentingnya partisipasi aktif dari masyarakat dalam setiap tahapan pembangunan di wilayah RW 13.

Beliau menyampaikan bahwa keterlibatan warga, terutama dalam mengidentifikasi permasalahan dan menggali potensi lokal, merupakan fondasi utama bagi terciptanya pembangunan yang relevan dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, ia berharap kegiatan yang diprakarsai oleh mahasiswa KKN ini dapat menjadi langkah awal menuju kerja sama yang lebih erat dan berkesinambungan antara masyarakat dan kalangan akademisi.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua Kelompok KKN, Muhammad Indra Maulana, yang memperkenalkan 14 mahasiswa peserta KKN dari berbagai program studi.

Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa pelaksanaan KKN bukan semata-mata sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, melainkan juga sebagai proses pembelajaran dua arah.

Mahasiswa diharapkan tidak hanya datang untuk mengimplementasikan program, tetapi juga untuk mendengarkan secara langsung kebutuhan warga, membangun kedekatan sosial, serta bersama-sama merumuskan solusi yang partisipatif, kontekstual, dan berkelanjutan.

Setelah sesi sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan agenda rembuk warga, sebuah forum diskusi terbuka yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan berbagai persoalan sosial yang mereka hadapi sehari-hari.

Beragam isu mencuat dalam forum ini, mulai dari permasalahan dalam pengelolaan sampah domestik, keterbatasan akses terhadap informasi kesehatan, kurangnya edukasi mengenai stunting dan pentingnya imunisasi, hingga tantangan dan potensi dalam pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di lingkungan setempat.

Forum ini berlangsung dalam suasana yang terbuka dan demokratis, dengan mahasiswa berperan sebagai fasilitator menggunakan pendekatan partisipatif dan dialogis, sehingga warga merasa lebih leluasa dalam menyuarakan aspirasinya.

Sebagai penutup, dilakukan sesi refleksi sosial bersama yang bertujuan untuk merangkum berbagai permasalahan yang telah diidentifikasi sekaligus menetapkan prioritas program yang akan ditindaklanjuti dalam tahapan-tahapan selanjutnya.

Refleksi ini bukan hanya menjadi ruang evaluasi awal, tetapi juga fondasi penting dalam menyusun intervensi program yang relevan dengan kondisi lokal.

Hasil dari sesi ini akan menjadi pijakan bagi mahasiswa dalam merancang strategi pemberdayaan yang berbasis pada kebutuhan nyata dan memaksimalkan potensi sumber daya yang ada di masyarakat.

Kegiatan ini menunjukkan tingginya antusiasme dan semangat partisipatif warga RW 13 dalam mengambil peran aktif terhadap pembangunan di wilayahnya.

Pelaksanaan sosialisasi awal, rembuk warga, dan refleksi sosial tidak hanya berfungsi sebagai ajang perkenalan program KKN, tetapi juga menjadi titik awal dalam membangun modal sosial yang kuat di antara mahasiswa dan masyarakat.

Melalui interaksi yang terbuka dan dialogis, terbangun pula komunikasi yang sehat dan rasa saling percaya yang esensial untuk keberlanjutan program.

Oleh karena itu, kegiatan ini menjadi pijakan awal yang sangat penting dalam menciptakan implementasi program yang lebih responsif, kolaboratif, dan selaras dengan kebutuhan riil serta aspirasi masyarakat setempat.

Mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaan atas tingginya antusiasme yang ditunjukkan oleh warga RW 13 selama berlangsungnya kegiatan.

Keterlibatan aktif masyarakat dalam menyampaikan pendapat, merespons pertanyaan, dan berpartisipasi dalam diskusi menjadi indikator kuat bahwa warga memiliki semangat kolaboratif yang tinggi untuk bersama-sama memajukan lingkungan mereka.

Antusiasme ini tidak hanya menjadi dukungan moral bagi mahasiswa, tetapi juga memperkuat keyakinan bahwa pendekatan partisipatif yang mereka terapkan mendapat respons positif dari masyarakat.

Salah satu mahasiswa mengungkapkan kesannya dengan berkata, “Kami tidak menyangka sambutan dari warga akan sehangat ini.

Ternyata masyarakat sangat terbuka dan mau diajak berdiskusi. Ini membuat kami semakin semangat untuk menjalankan program-program berikutnya dengan sepenuh hati.”

Testimoni ini mencerminkan adanya hubungan yang mulai terbangun secara emosional antara mahasiswa dan warga, yang menjadi modal penting dalam kelangsungan program pemberdayaan di tahap-tahap selanjutnya.

Tingginya antusiasme dari masyarakat menjadi suntikan semangat baru bagi para mahasiswa KKN, sebab terasa jelas bahwa keberadaan mereka tidak hanya diterima, tetapi juga dinantikan sebagai bagian dari dinamika sosial yang sedang dibangun bersama.

Keterlibatan aktif warga tidak lagi sekadar berperan sebagai pendukung kegiatan, melainkan telah menjadi elemen kunci dalam proses pemberdayaan masyarakat.

Hal ini mencerminkan bahwa pendekatan yang dilakukan mahasiswa berhasil membuka ruang partisipasi yang bermakna bagi warga dalam merumuskan solusi terhadap persoalan lokal.

Selain itu, kehangatan dalam interaksi antara mahasiswa dan masyarakat sejak awal pelaksanaan kegiatan turut menciptakan atmosfer kekeluargaan yang erat dan inklusif.

Relasi yang bersifat informal namun tetap saling menghargai ini menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan sosial (social trust) yang sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan program jangka pendek seperti KKN.

Dengan adanya modal sosial ini, diharapkan seluruh rangkaian program yang direncanakan dapat berjalan secara partisipatif, kolaboratif, serta berkelanjutan selama masa pengabdian berlangsung.

(Red Penasakti.com)