Breaking
▸ Pemerintah Umumkan Kebijakan Baru Ekonomi Digital 2026▸ Indonesia Juara SEA Games Cabang Badminton▸ Harga BBM Turun Mulai Besok▸ KPK Tangkap Tersangka Korupsi Dana Desa▸ Pemerintah Umumkan Kebijakan Baru Ekonomi Digital 2026▸ Indonesia Juara SEA Games Cabang Badminton
Pendidikan

MD atau Pesantren Alhidayah Hancur di Kabupaten Sukabumi

Admin13 Maret 20240 views2 menit baca
MD atau Pesantren Alhidayah Hancur di Kabupaten Sukabumi

Sukabumi || Penasakti.com – Rabu 13 Maret 2024 Madrasah Diniyah dan Pesantren Alhidayan beralamatkan di Kp. Ciburih RT. 25, RW. 09 Kecamatan Lengkong Kabupaten Sukabumi.

MD atau Pesantren Alhidayah Hancur di Kabupaten Sukabumi
MD atau Pesantren Alhidayah Hancur di Kabupaten Sukabumi
MD atau Pesantren Alhidayah Hancur di Kabupaten Sukabumi
Sangat memprihatinkan kondisi bangunan gedung Sekolah hampir rubuh.
MD atau Pesantren Alhidayah Hancur di Kabupaten Sukabumi
MD atau Pesantren Alhidayah Hancur di Kabupaten Sukabumi
MD atau Pesantren Alhidayah Hancur di Kabupaten Sukabumi
Menurut pengakuan dari pengasuh MD dan Pesantren Al Hidayah Ustad Suhendar berdirinya MD atau Pesantrean Al Hidayah dari tahun 2009 sampai dengan sekarang total siswa dan siswi 53 orang.
MD atau Pesantren Alhidayah Hancur di Kabupaten Sukabumi
MD atau Pesantren Alhidayah Hancur di Kabupaten Sukabumi

Yang dahulunya lokasi tempat belajar siswa – siswi tersebut bekas langgar atau Mushola yang berbentuk panggung berdindingkan bambu atau bilik dan memiliki atap yang sudah bocor jika hujan maka para siswa dan siswi sangat kesulitan dalam belajar.

Pesantren tersebut jika malam harinya dipergunakan oleh para santri untuk mengaji mereka sangat berharap sekali bantuan dari pemerintah daerah atau Departemen Agama dan juga dari para dermawan.

Karena selama 14 tahun sejak berdirinya tempat belajar tersebut para pengajar tidak ada uang honor dari Pemerintah mereka dengan sukarela dan ikhlas mendidik anak – anak didiknya.

Dimadrasah tersebut juga ada anak – anak yatim sebanyak 5 orang terdiri dari 3 anak santri laki – laki yang berusia 13 tahun dan anak – anak santri yatim perempuan sebanyak 2 orang yang berusia 11 tahun.

Melihat kondisi tempat belajar para santri sangat mengkhawatirkan jika terjadi hujan, angin besar dan kemungkinan akan roboh dan banjir ke dalam ruangan.

(Rudy Januar)