Penasakti.com // Internasional Update – Data tingkat depresi antarnegara 2023 yang dimuat laman World Population Review menyebutkan, Ukraina menjadi urutan pertama sebagai negara dengan penduduk terdepresi sebanyak 2.800.587 kasus atau sebesar 6,3 persen dari jumlah penduduk.

Kemungkinan angka penduduk depresi akan jauh lebih besar lagi. Menurut data yang dimuat laman Our Better World dari data Kementerian Kesehatan 2013, sekitar 9 juta penduduk Indonesia mengalami depresi.
Ada pun sebagai akibatnya ditemukan 3,4 kasus bunuh diri per 100.000 orang di Indonesia. Sekitar 16 juta orang berusia 15 tahun ke atas, ditemukan kasus bunuh diri yang diawali gejala kecemasan dan depresi oleh pelakunya.
Kasus bunuh diri turut dipicu dengan penyakit kejiwaan yang lebih parah seperti psikosis, dengan angka sekitar 400.000 orang.
Ada pun penderita gangguan jiwa yang mendapatkan pemasungan dari lingkungannya mencapai 57.000 orang. Depresi juga sudah dialami oleh remaja Indonesia hingga membuat 19 persen di antaranya mempunyai ide untuk bunuh diri. Sebanyak 45 persen remaja bahkan sudah melakukan tindakan untuk menyakiti diri sendiri.
Mengutip laman ITS, menurut pendapat profesor Universidade Federal do Rio Grande do Sul, Christian Kieling, MD. PhD perkiraan peningkatan depresi yang dialami remaja memiliki peningkatan 10 – 20 persen setiap tahunnya.
Sementara itu, pada 2019 WHO mencatat sekitar 300 juta orang di seluruh dunia telah mengalami depresi. Sebanyak 15,6 juta juta di antaranya berasal dari Indonesia.
Penelitian tersebut juga menemukan 1 dari 3 remaja Indonesia mempunyai masalah kesehatan di rentang usia 10-17 tahun. Angka tersebut setara dengan 15,5 juta remaja.
Jenis gangguan mental yang banyak diderita remaja adalah gangguan kecemasan (gabungan fobia sosial dan gangguan cemas menyeluruh) 3,7%, gangguan depresi mayor (1,0%), gangguan perilaku (0,9%), hingga gangguan stres pasca-trauma (PTSD) dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) dengan angka masing-masing 0,5%.
1. Bangun Kedekatan dengan Anak Remaja
Kedekatan dengan remaja? remaja jaman sekarang memang lebih sulit untuk didekati. Punya banyak tantangan untuk membangun kedekatan dengan anak.
Apalagi melakukan pendekatan pada remaja yang sedang depresi, bisa lebih sulit.
Oleh karena itu, lakukan pendekatan dengan lembut dan persuasif, bukan dengan pemaksaan atau kekerasan. Ajarkan anak-anak supaya terbiasa membagi perasaan secara terbuka pada orangtua agar beban mereka terasa berkurang.
Bisa diawali dengan sekedar menanyakan kabar atau tawarkan tempat berbagi cerita kapan pun mereka siap. Juga harus up to date dengan berbagai informasi di era millenial ini. Karena hal tersebut penting sebagai referensi untuk menghadapi remaja di masa kini, biar nggak dianggap kuno-kuno amat.
2. Yakinkan Anak Bahwa Mereka Tidak Sendirian Ketika anak sedang merasa di titik terendahnya, tunjukkan kasih sayang dan kepedulian pada mereka. Beritahu mereka bahwa Mommies akan selalu ada untuk mereka.
3. Motivasi untuk Memperbanyak Aktivitas Jika sudah berada di tahap stress menuju depresi, jangan biarkan mereka mengurung diri, Moms. Mengisolasi berpotensi memperburuk depresi dan membuat beban terasa lebih berat.
Bujuk mereka untuk keluar dari kamarnya dan melakukan aktivitas ringan bersama keluarga seperti olahraga, sekedar ngobrol sambil minum teh di ruang keluarga, atau banyak kegiatan lainnya.
4. Menerapkan Pola Hidup yang Sehat
Selain olahraga, jangan lupa untuk menyiapkan asupan makanan bergizi ya Moms, agar tubuh mereka selalu prima.
5. Hindarkan Para Remaja dari Konsumsi Alkohol dan Obat-obatan
Saat depresi, keinginan untuk menghindari perasaan yang kacau dan kalut seringkali muncul.
Disitulah saat-saat yang rawan bagi mereka. Mereka bisa saja memiliki pikiran untuk merokok, atau bahkan mencoba alkohol dan obat-obatan berbahaya.
Mommies perlu menghindarkan kedua hal ini, salah satunya dengan menjaga mereka untuk senantiasa mendekatkan diri dengan yang maha kuasa.
6. Berkonsultasi dengan Pihak Medis
Nah, saat buah hati mulai menunjukkan perilaku yang berbahaya, seperti keinginan untuk bunuh diri atau menyakiti diri sendiri, sebaiknya Mommies segera minta bantuan kepada pihak medis, misalnya psikolog.
Jangan malu atau sungkan untuk konsultasi karena dianggap negatif. Konsultasi dengan pihak yang tepat bisa membantu anak remaja dalam melewati masa sulitnya.
(Rudy Januar)

