Breaking
▸ Pemerintah Umumkan Kebijakan Baru Ekonomi Digital 2026▸ Indonesia Juara SEA Games Cabang Badminton▸ Harga BBM Turun Mulai Besok▸ KPK Tangkap Tersangka Korupsi Dana Desa▸ Pemerintah Umumkan Kebijakan Baru Ekonomi Digital 2026▸ Indonesia Juara SEA Games Cabang Badminton
Sejarah

Menjelang Peringatan Hari Santri dan Peran Serta Santri Dalam Memperjuangkan Kemerdekaan RI

Admin20 Oktober 20250 views2 menit baca
Menjelang Peringatan Hari Santri dan Peran Serta Santri Dalam Memperjuangkan Kemerdekaan RI

Penasakti.com – Peran K.H. Ahmad Sanusi dalam perlawanan santri terhadap penjajah sangat signifikan, yang secara umum terbagi dalam jalur pendidikan, keorganisasian, dan perlawanan fisik.

Beliau menggunakan pesantrennya sebagai basis untuk menanamkan semangat nasionalisme dan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

Berikut adalah rincian peran beliau :

1). Pesantren sebagai Pusat Perlawanan dan Pendidikan Kebangsaan K.H. Ahmad Sanusi mendirikan Pesantren Genteng Babakan Sirna (kemudian menjadi cikal bakal Pesantren Syamsul Ulum di Gunungpuyuh, Sukabumi).

* Menanamkan Nasionalisme :

Beliau mendidik para santri untuk berjuang demi kemerdekaan dan menentang hukum-hukum kolonial yang tidak sejalan dengan syariat Islam.

Pesantren di bawah kepemimpinan beliau menjadi tempat disemaikannya bibit-bibit nasionalisme dan kesadaran untuk melawan penjajahan.

* Metode Pendidikan Kritis :

Beliau menerapkan metode pengajaran seperti halaqah dan diskusi, yang mendidik santri untuk berpikir kritis dan tidak menerima begitu saja fatwa-fatwa ulama yang bekerja untuk pemerintah kolonial (ulama Pakauman), sehingga membangkitkan keberanian untuk menentang kolonialisme.

2). Keterlibatan dalam Perlawanan Fisik dan Politik Peran K.H. Ahmad Sanusi tidak hanya terbatas pada pendidikan, tetapi juga pada gerakan politik dan perlawanan langsung :

* Keterlibatan dalam Pemberontakan 1926 :

K.H. Ahmad Sanusi dan para santri dari Pesantren Genteng Babakan Sirna dituduh terlibat dalam Gerakan SI Afdeeling B (Pemberontakan Rakyat Jelata di Jawa Barat pada November 1926) sebagai perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Keterlibatan ini mengakibatkan beliau ditangkap, dipenjara di Sukabumi dan Cianjur, dan kemudian diasingkan ke Tanah Tinggi, Batavia, selama tujuh tahun (1927-1934).

* Aktivitas di Sarekat Islam (SI) :

Beliau bergabung dengan Sarekat Islam (SI) sebagai penasihat (adviseur) dan aktif membela SI dari serangan fitnah yang disinyalir didalangi oleh aparat kolonial.

* Mendirikan Organisasi Perjuangan :

Beliau mendirikan organisasi Al-Ittihadiyatul Islamiyah (AII) dan kemudian Persatuan Umat Islam Indonesia (PUII)/Persatuan Umat Islam (PUI), yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi, serta memperjuangkan kemerdekaan.

* Peran Pasca-Kemerdekaan :

Setelah proklamasi, beliau turut berperan dalam pembentukan Tentara PETA (Pembela Tanah Air), BKR (Badan Keamanan Rakyat) Sukabumi, dan KNID (Komite Nasional Indonesia Daerah) di Sukabumi.

Secara ringkas, K.H. Ahmad Sanusi menjadi penggerak perlawanan melalui jalur pesantren, yang menghasilkan santri-santri yang berani melawan penjajah, dan secara langsung terlibat dalam gerakan-gerakan politik serta perlawanan yang berujung pada penangkapan dan pengasingan oleh Belanda.

Atas jasa-jasanya, K.H. Ahmad Sanusi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2022.

(Rudy Januar)