Purwakarta || Penasakti.com – Selain untuk menjaga kebersihan hal lainnya disampaikan oleh warga masyarakat ada pesan dari kang Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat untuk jaga keberhasilan demi keindahan dan kenyamanan kota Purwakarta.

Desa Lebak Anyar, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta pada Jumat (19/12/2025). bersama Ratusan warga, didominasi oleh kaum ibu, tampak antusias turun ke jalan membawa sapu lidi, cangkul, dan parang, melakukan bebersih gotong royong.
Gerakan Jumat Bersih (Jumsih) yang digelorakan oleh Bupati Purwakarta, Om Zein, sejalan dengan visi “Purwakarta Istimewa”.
Gerakan ini juga semakin diperkuat dengan arahan dari Gubernur Jawa Barat, H. Dedi Mulyadi (KDM), yang mewajibkan kebersihan lingkungan sebagai budaya utama warga Jawa Barat.
Fokus di Dusun tiga.3 Blok N Khusus di wilayah RT 15/RW 06, Dusun tiga 3 Blok N, suasana gotong royong terasa sangat kental. Warga bahu-membahu melakukan aksi nyata.
Membabat rumput liar yang sudah meninggi di sepanjang bahu jalan.
Membersihkan selokan dari sedimen tanah dan sampah agar aliran air.
Semakin lancar menghadapi musim hujan, Memungut sampah plastik di sepanjang jalan desa agar lingkungan tetap asri dan sehat.
Ibu-Ibu Jadi Motor Penggerak
Pemandangan menarik terlihat dari keceriaan ibu-ibu Dusun tiga 3 Sambil bersenda gurau, mereka sangat bersemangat membersihkan lingkungan rumah dan jalanan.
“Kami senang ada kegiatan Jumsih ini. Selain lingkungan jadi bersih dan sehat, kami juga bisa berkumpul dengan tetangga.
Ini bentuk dukungan kami untuk program Om Zein dan Pak Dedi Mulyadi agar Purwakarta tetap istimewa dan Jawa Barat makin juara,” ujar salah seorang warga di sela-sela kegiatannya.
Pesan Kebersihan adalah Budaya
Perintah Jumsih dari Bupati Om Zein bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya membangun kembali
Tradisi gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Sunda. Dengan lingkungan yang bersih, diharapkan kesehatan masyarakat meningkat dan kenyamanan warga dalam beraktivitas tetap terjaga.
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hari tersebut diakhiri dengan suasana kekeluargaan, di mana warga beristirahat sejenak menikmati penganan lokal hasil swadaya masyarakat setempat.
(Mustopa)

