Menelisik Dana BOS di SMP Negeri 1 Purwakarta
Purwakarta – Penasakti.com // Potret suram perlakuan terhadap gaji guru terjadi di SMP Negeri 1 Purwakarta, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Dua orang tenaga pendidik tidak pernah mendapatkan gaji meski telah mengajar di SMP Negeri 1 Purwakarta selama kurang lebih satu tahun.
Menurut informasi dari wakil kepala sekolah, Agung mengatakan, keduanya merupakan tenaga pendidik keluarga salah satu mantan Pejabat yang dititipkan kepada Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Purwakarta.
”Neneknya dulu pejabat Pemda, trus dititipkan ikut mengajar disini”, ujar Agung.
Untuk mendapatkan informasi yang akurat, Tim Liputan Penasakti.com mencoba meminta untuk dapat wawancara langsung dengan Kepala SMP Negeri 1 Purwakarta.
Alih-alih langsung dipertemukan dengan kepala sekolah, salah satu resepsionis SMP Negeri 1 Purwakarta justru diduga melakukan percobaan suap kepada wartawan, dengan cara memberikan amplop berisi sejumlah uang agar wartawan segera meninggalkan sekolahan.
” Ini titipan dari pak kepala sekolah”, jelasnya”.
Ada apa dengan SMP Negeri 1 Purwakarta sehingga lebih memilih melakukan upaya penyuapan dibanding wawancara dengan awak media?
Ini jelas sebuah upaya menghalangi tugas jurnalis untuk mendapatkan informasi keterbukaan publik khususnya di SMP Negeri 1 Purwakarta.
Usai menunggu kurang lebih satu jam, Tim Liputan Penasakti.com akhirnya dipertemukan dengan Kepala SMP Negeri 1 Purwakarta H. Patoni. M.Pd.,MM.
Kepada awak media Patoni menyampaikan, memang di SMP Negeri 1 Purwakarta ada dua guru yang tidak memiliki legalitas resmi dan selama satu tahun bekerja tidak pernah menerima gaji.
Namun, dengan tegas Patoni membantah, keduanya bukanlah guru titipan dari salah satu pejabat, mereka murni mengajar atas kemauan sendiri tanpa menuntut gaji.
” Neneknya dulu pejabat dan benar keduanya belum pernah digaji karena dana bos tidak boleh digunakan untuk gaji honor yang belum masuk dapodik”, jelas Patoni.
Kondisi memprihatinkan ini, diharap segera mendapat tindakan tegas dari Pemerintah utamanya Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta hingga Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, agar tidak ada lagi guru yang terabaikan jasa-jasanya meski telah mengajar selama bertahun-tahun.
Dimana rasa kemanusiaan Pemerintah utamanya Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta Jawa Barat, yang telah membiarkan ironi ini berjalan cukup lama tanpa ada solusi yang nyata.
Dibalik megahnya gedung yang diresmikan oleh Dedi Mulyadi pada tahun 2013 lalu, ternyata menyimpan pilu yang amat dalam yang dirasakan oleh dua orang guru SMP Negeri 1 Purwakarta.
Sekolah yang semestinya mengajarkan sila-sila kemanusiaan kepada para siswa, justru diduga kuat telah memperlakukan dua orang guru tanpa mengedepankan perikemanusiaan dalam waktu yang sudah cukup lama.
( Penulis: Agus YL )

