Misteri Hasil Lab Keracunan MBG SDN 2 Hegarsari: Dapur SPPG Kembali Buka, Sekolah dan Camat Dibuat “Tutup Mata”
Garut – Penasakti.com // Kabut tanda tanya masih menyelimuti insiden dugaan keracunan massal yang menimpa siswa dan tenaga pengajar di SD Negeri 2 Hegarsari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Tragedi bermula saat sejumlah siswa dan guru mengalami gejala mual, pusing, hingga muntah hebat usai menyantap menu MBG kiriman dari dapur SPPG Hegarsari.
Merespons insiden tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan melakukan penutupan sementara sembari menunggu hasil uji laboratorium (uji lab) guna memastikan apakah insiden tersebut murni akibat keracunan makanan atau bukan.
Namun, alih-alih memberikan titik terang, kebijakan pembukaan kembali dapur SPPG Hegarsari justru menyisakan kekecewaan mendalam bagi pihak sekolah.
Kepala SDN 2 Hegarsari Iip Kadir Muslim menyatakan hingga saat ini pihaknya tidak pernah menerima pemberitahuan resmi terkait hasil uji lab dari instansi terkait.
Ketidakjelasan ini memunculkan kebingungan di lingkungan sekolah mengenai penyebab pasti yang membuat puluhan warga sekolah tumbang.
Tidak hanya soal kepastian medis, pihak sekolah juga menagih janji tanggung jawab. Kepala SDN 2 Hegarsari menyayangkan hingga detik ini belum ada kejelasan maupun itikad baik dari pihak pengelola dapur MBG terkait tanggungan biaya pengobatan para siswa dan guru yang menjadi korban.
”Kami tidak mengetahui seperti apa hasil uji lab, yang kami tau kemarin ada dari pihak SPPG yang datang memberitahu kalau mau lanjut operasi lagi, selain itu kami tidak mengetahui, minta maaf juga tidak, apalagi biaya pengobatan para korban sampai saat ini belum ada kejelasan”, ujar Iip Kadir Muslim kepada Penasakti.com Rabu ( 15/07/2026 ).
Camat Kadungora Mohamad Badar Hamid yang notabenenya memegang peran sebagai bagian dari Satgas penanganan, mengaku pasrah karena dapur telah mengantongi izin dari BGN untuk kembali beroperasi.
Ironisnya, di tengah izin operasional yang telah dikeluarkan, Camat Kadungora justru mengakui dirinya sama sekali tidak mengetahui apalagi memegang salinan hasil uji laboratorium sampel makanan yang diduga kuat menjadi akar masalah.
”Untuk sementara kami memang belum memiliki informasi tersebut, melainkan hanya sebatas surat dari BGN yang menerangkan bahwa SPPG Hegarsari ini bisa runing kembali dan suspendnya telah dicabut dan dasar pencabutan itu salah satunya adalah uji labs untuk kejadian kemarin, tapi saya kira untuk informasi lebih akurat saya kira bapak bisa konfirmasi langsung ke pihak BGN. Untuk sementara kami tidak mendapatkan hasil ini tapi yang pasti ada pemberitahuan bahwa hasil uji labs sudah keluar dan sudah dilakukan verifikasi terhadap dapur yang di suspend dan sudah sesuai dengan SOP maka pihak BGN melakukan pencabutan suspend”, jelas Mohamad Badar Hamid.
Kondisi ini seolah memperlihatkan lemahnya transparansi dan buruknya koordinasi antar instansi terkait evaluasi program strategis ini.
Lantas, standar acuan apa yang digunakan BGN untuk membuka kembali operasional dapur jika hasil investigasi laboratorium masih disembunyikan dari publik?
Sikap bungkam juga ditunjukkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Garut. Saat dimintai konfirmasi mengenai hasil uji laboratorium yang memicu keresahan para orang tua murid ini, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Garut Yodi Sirojudin seakan tutup mulut dan enggan memberikan pernyataan tegas, serta memilih menunggu delegasi dari Satgas.
”Informasi terkait MBG ke satgas, Kewenangannya, kecuali nanti ada pendelegasian ke dinkes, Tetep info mah harus ada pendelegasian dari satgas”, tulis Yodi Sirojudin saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.
Publik menuntut transparansi penuh dari BGN dan Dinas Kesehatan terkait hasil uji laboratorium tersebut. Jangan sampai program prioritas pemerintah justru menjadi preseden buruk bagi keselamatan siswa akibat lemahnya fungsi pengawasan dan lambatnya penegakan sanksi bagi penyedia fasilitas yang lalai.
Hak kesehatan siswa yang menjadi korban seakan terabaikan, sementara dapur penyedia dibiarkan kembali menyalurkan makanan tanpa adanya evaluasi terbuka kepada publik.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola dapur SPPG Hegarsari belum memberikan keterangan resmi terkait operasional yang kembali berjalan dan tuntutan biaya pengobatan korban.
( Penulis: Agus YL )

