Breaking
▸ Pemerintah Umumkan Kebijakan Baru Ekonomi Digital 2026▸ Indonesia Juara SEA Games Cabang Badminton▸ Harga BBM Turun Mulai Besok▸ KPK Tangkap Tersangka Korupsi Dana Desa▸ Pemerintah Umumkan Kebijakan Baru Ekonomi Digital 2026▸ Indonesia Juara SEA Games Cabang Badminton
Budaya

MUSEUM PRABU SILIWANGI KOTA SUKABUMI

Admin17 November 20230 views3 menit baca

Penasakti.com || Sukabumi – Berdiri pada tanggal 26 Jnauari 2011 didirikan oleh Prof Kh. Fajar Laksana juga sebagai pimpinan ponpes Dzikir Alfath dan beliau juga sebagai salah satu keturunan dari prabu siliwangi, keberadaan museum prabu siliwangi berada di dalam lokasi pesantren Dzikir Alfath, Museum Prabu Siliwangi berada di Kelurahan Karang Tengah, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi.

MUSEUM PRABU SILIWANGIKOTA SUKABUMI
Museum ini memiliki nama asli “Museum Sejarah Sunda Prabu Siliwangi”, tetapi masyarakat lebih mengenalnya dengan nama “Museum Prabu Siliwangi”.
MUSEUM PRABU SILIWANGIKOTA SUKABUMI
Museum Prabu Siliwangi didirikan oleh salah satu keturunan dari Prabu Siliwangi sendiri yaitu Bapak Kyai M Fajar Laksana.
MUSEUM PRABU SILIWANGIKOTA SUKABUMI
Beliau keturunan ke- 17 dari Prabu Siliwangi. Museum ini berdiri secara resmi pada tahun 2011 yang diresmikan oleh Walikota Sukabumi dengan turunnya SK dari Dispora (Dinas Pemuda dan Olahraga). Museum Prabu Siliwangi berada di satu lokasi dengan Pesantren Dzikir Al-Fath.

Tahun 2011 menjadi awal berdirinya Museum Prabu Siliwangi sampai bisa bertahan hingga sekarang. Hal itu disebabkan karena Museum Prabu Siliwangi menggunakan konsep terpadu yaitu berada di komplek pendidikan Dzikir Al-Fath, sehingga siswa/siswinya diwajibkan untuk berkunjung ke Museum tersebut. Masyarakat luas pun dapat merasakan berkunjung ke Museum Prabu Siliwangi.

“Museum ini dibuka setiap hari, tetapi selama pandemi dibatasi untuk kunjungan. Selama pandemi ini banyak kunjungan hanya dari siswa/siswi yang berada di sekitar Pesantren Dzikir Al-Fath saja. Biaya masuk ke Museum itu sebesar Rp 10.000,-/ orang untuk masyarakat umum dan pelajar/mahasiswa itu Rp 5.000,-/orang,” kata Irwan Ketua 3 Bidang Operasional Museum Prabu Siliwangi.

Museum Prabu Siliwangi dibedakan dalam tiga ruangan, ada ruangan sejarah Islam, sejarah Prabu Siliwangi, dan juga sejarah Kemerdekaan. Berbicara mengenai sejarah Prabu Siliwangi, di museum ini terdapat warisan budaya benda dan tak benda.

Warisan budaya benda berupa naskah, arkeologika, seni rupa, teknologika, pusaka-pusaka peninggalan Prabu Siliwangi dan Kerajaannya. Lalu, warisan budaya tak benda yang dimiliki Museum Prabu Siliwangi yaitu kebudayaan pencak silat, boles (bola api), ‘ngagotong lisung’ (menggotong lisung).

Boles dan ‘ngagotong lisung’ sudah mendapatkan HKI (Hak Kekayaan Intelektual) warisan budaya tak benda Provinsi Jawa Barat. Warisan budaya tak benda tersebut menjadi ikon Kebudayaan Sunda di Kota Sukabumi.

“Ada 800 koleksi dari semua koleksi dari berbagai jenis koleksi dan sudah terinventaris di dalam buku. Kitab Suasit menjadi icon dari semua koleksi yang ada. Kitab Suasit ini menceritakan tentang sejarah Prabu Siliwangi termasuk di dalamnya cerita dari Raden Kian Santang, Syekh Quro, dan sejarah Nyai Sumbang Larang, itu untuk koleksi ditingkat Jawa Barat,” kata Irwan dalam penjelasannya.

Terdapat banyak sekali koleksi warisan budaya benda nasional dan internasional. Warisan budaya benda secara nasional banyak tersapat di dalam Museum, sedangkan yang menariknya warisan budaya benda internasional yaitu terdapat replika telapak kaki Nabi Muhammad SAW.

Tentunya setiap unsur kebudayaan pasti melekat dengan keunikan atau kekhasannya tersendiri, begitu juga dengan Museum Prabu Siliwangi. “Museum ini di samping memiliki benda-benda yang bersifat kesundaan, museum pun mengembangkan seni budaya.

Ketika ada pengunjung yang datang berkunjung akan disambut dengan seni budaya seperti penampilan pencak silat, boles, dan ‘ngagotong lisung’. Serta pengunjung di sini akan mendapatkan wisata sejarah, wisata religi, wisata pendidikan, dan juga mendapatkan wisata silaturahmi,”

Banyak sekali penghargaan yang didapatkan oleh Museum Prabu Siliwangi dari tahun 2011 hingga sekarang Selain penghargaan, dari segi pembangunan pun dapat dikatakan maju yaitu dari pembangunan sektor ekonomi kreatif. Ekonomi dari masyarakat sekitar sangat terbantu dengan adanya Museum Prabu Siliwangi ini. Terdapat toko cendera mata di depan Museum yang berisikan hasil-hasil karya atau kerajinan dari masyarakat.

Masyarakat dapat menitipkan produk atau barangnya di toko tersebut.
Wisata sejarah memiliki makna dan manfaatnya seperti kita akan mengetahui mana yang benar dan mana yang salah dan akan lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.

(Rudy Yanuar Sukabumi)