Pengamat Sentil Ambisi Bupati Garut Incar Kursi Ketua Golkar “Jangan Baru Pinjam Perahu Kini Mau Kuasai Kemudi”
GARUT || Penasakti.com – Bursa calon Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Garut jelang Musyawarah Daerah (Musda) semakin memanas. Nama Bupati Garut yang dikabarkan masuk dalam bursa calon ketua mendapat sorotan tajam dari pengamat politik Abu Hanif Mutaqqin.
Ia menilai, langkah tersebut berpotensi menimbulkan kesan bahwa jabatan kepala daerah dijadikan modal untuk menguasai kepemimpinan partai, padahal saat Pilkada yang bersangkutan disebut hanya menggunakan Partai Golkar sebagai kendaraan politik.
“Sungguh sebuah keajaiban politik yang luar biasa. Saat maju Pilkada, Bupati Garut ini hanya meminjam perahu politik karena statusnya yang masih ‘mualaf kader’.
Namun, begitu duduk di kursi kekuasaan, justru muncul kesan seolah memiliki hak paten untuk menjadi nahkoda partai,” ujar Abu, Rabu (15/7/2026).»
Menurutnya, Partai Golkar memiliki mekanisme organisasi dan kaderisasi yang tidak boleh dikalahkan oleh pengaruh jabatan politik.
“Jangan sampai ada asumsi yang mengabaikan mekanisme internal, seolah-olah dengan memegang tongkat kekuasaan lantas bisa serta-merta mencengkeram kemudi partai, bahkan dengan memanfaatkan fasilitas jabatan yang melekat pada dirinya,” katanya.»
Abu juga mengingatkan agar kader-kader senior yang telah lama membesarkan Partai Golkar tidak disingkirkan dalam proses suksesi kepemimpinan.
“Di mana posisi para senior partai yang loyalitas dan kredibilitasnya sudah teruji oleh waktu? Apakah mereka yang telah berdarah-darah membesarkan partai ini hanya akan menjadi penonton dan dipaksa mengantre di belakang?” tegasnya.
Ia menilai Golkar Garut masih memiliki banyak kader berpengalaman yang layak memimpin partai, termasuk Ketua DPRD Kabupaten Garut yang dinilai memiliki rekam jejak organisasi yang kuat.
Hingga berita ini diterbitkan, Bupati Garut maupun jajaran DPD Partai Golkar Kabupaten Garut belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik tersebut maupun isu pencalonan Ketua DPD Partai Golkar menjelang Musda.
(Andi Ahmad Aziz)

