Penasakti.com // Sukabumi – Buku adalah jendela dunia, dengan membaca buku membuka pintu gerbang untuk penguasan berbagai hal seperti ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, sosial serta budaya.
Dengan membaca masyarakat Indonesia dapat melihat keluar untuk menyaksikan sisi dunia yang begitu luas.
Sehingga tanpa kitas sadari, dengan membaca membawa pola pikir menjadi lebih baik untuk mengubah masa depan lebih sejahtera. Selain itu membaca dapat melatih dan menstimulasi otak seperti meningkatkan kosentrasi, meningkatkan kualitas memori dan meingkatkan kualitas mental. semakin hari minat baca masyarakat Indonesia kian menurun. Mereka banyak disibukan dengan kegiatan yang jauh dari buku.
Penurunan minat baca disebabkan adanya persoalan seperti masalah akses, sarana, alur informasi, dan kualitas pemahaman literasi di masyarakat Indonesia. Menurut UNESCO, setiap tahunnya satu orang harus membaca minmal 3 buku.
Jika dibandingkan dengan negara di Asia Timur, Eropa dan Amerika Serikat rata-rata sudah mampu membaca 15-30 buku pertahunnya.
Sementara di Indonesia jumlah ideal keberadaan buku di Indonesia 270 juta penduduk dikali 3 buku berarti butuh 810 juta eksemplar buku yang harus beredar tiap tahunnya (Adisty, 2022).
Namun, jumlah bacaan di Indonesia hanya 22.318.083 eksemplar. Ini berarti belum terpenuhinya pasokan buku untuk pemerataan kebutuhan buku masyarakat Indonesia.
Penyebaran buku yang lebih merata diperlukan sarana untuk pengelolaan buku secara baik. Dengan sarana perpustakaan dan taman bacaan dapat mengelola buku dengan mekanisme yang benar dan menfasilitasi mayarakat dalam meningkatkan minat baca.
Tetapi dengan minimnya jumlah perpustakaan dan taman baca menjadi bagian permasalahan dalam literasi masyarakat Indonesia.
Seperti masih banyaknya daerah-daerah pedesaan atau kelurahan yang belum memiliki perpustakaan dan taman baca. Berdasarkan survei dilapangan,
Rendahnya minat baca di daerah pedesaan atau kelurahan disebabkan oleh tidak adanya sarana dan prasarana dalam menunjang kegiatan peningkatan minat baca. Anak usia sekolah dasar di desa layaknya anak-anak biasa yang mengisi waktu di luar jam sekolah dengan bermain.
Literasi membaca menjadi unsur penting untuk meningkatkan kemampuan dan bakat seseorang. Mungkin kita adalah orang biasa-biasa saja, dengan memiliki literasi membaca yang baik, mampu mengubah seseorang yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa.
Dengan kemampuan literasi membaca, kita pun dengan mudah bisa memahami dan mempertimbangkan makna-makna yang disampaikan lewat tulisan
Lalu literasi membaca itu sendiri apakah memiliki peran tujuannya?
Membantu dalam memahami siswa menemukan strategi yang cocok untuk memahami makna pada bacaan yang dibaca.
Bertujuan untuk mencapai siswa/seseorang untuk mencapai beberapa kepentingan,baik itu yang bersifat pribadi,pendidikan,pekerjaan, sosial ataupun untuk urusan perpolitikan.
Membangun budi pekerti siswa agar tahu sopan santun, dan menjaga nilai-nilai norma yang ada.
Adapun basis masyarakat,yaitu indikator literasi membaca yang melibatkan orangtua dan masyarakat dalam mengembangkan literasi di Lingkungan masyarakat. Serta kemampuan pihak Masyarakat atau komuitas memberikan dan melayani sarana dan prasarana yang mendukung literasi membaca peserta didik.
Sehingga anak-anak dapat dengan mudah mengakses kegiatan membaca di lingkungan Masyarakat dan menjadikan kebiasaan dalam keseharian di luar sekolah.
(Rudy Januar Susafha.,AMd.,S.Pd.,SE.,M.Si)

