“PERNYATAAN SIKAP DPD SATRIA SUNDA SAKTI TENTANG REORIENTASI SEJARAH DAN ASAL-USUL PUSAT KOTA SUKABUMI”
Penasakti.com || Menimbang bahwa identitas sebuah bangsa dan daerah berakar kuat pada pelurusan sejarahnya, kami menegaskan beberapa poin sikap kebudayaan sebagai berikut :
1. Penilaian Kembali Nilai Sejarah Alun-Alun Kota.
Sikap Menolak keras jika Alun-alun Sukabumi hanya dinilai secara sempit sebagai aset ruang terbuka publik atau sisa tata ruang administratif kolonial (Gemeente 1914).
Landasan Filosofis Alun-alun merupakan manifestasi dari kosmologi tata ruang Sunda asli jauh sebelum kolonial datang. Ia adalah simbol panyawangan, titik temu antara pemimpin (Ulul Amri), spiritualitas (Masjid Agung), rakyat (alun-alun), dan alam (orientasi lurus menghadap Gunung Gede).
Nilai sejarahnya harus dikembalikan sebagai pusat marwah kebudayaan masyarakat Sukabumi, bukan sekadar pusat komersial modern.
2. Pelurusan Sejarah Kampung Cikole
Sikap Mendesak adanya pelurusan narasi sejarah agar tidak ada kesan bahwa sejarah Sukabumi baru dimulai ketika Dr. Andries de Wilde mengusulkan nama Soekaboemi pada 13 Januari 1815.
Landasan Filosofis Sebelum tahun 1815, kawasan ini adalah Kampung Cikole, sebuah peradaban agraris yang mandiri, subur, dan memiliki sistem kemasyarakatan sendiri di bawah Kepatihan Cianjur.
Sejarah harus adil menempatkan Kampung Cikole sebagai rahim ibu yang melahirkan Sukabumi, sehingga porsi sejarah lokal pra-kolonial harus diangkat ke permukaan secara terhormat.
3. Ketetapan Titik Koordinat (Titik Nol Kota) Sikap Mengusulkan peninjauan kembali atau penegasan titik koordinat pusat kota (titik nol) berdasarkan nilai historis spiritual, bukan sekadar penanda jarak geografis yang dibuat oleh dinas pekerjaan umum zaman Belanda.
Landasan Filosofis Penentuan titik pusat sebuah wilayah dalam tradisi Sunda berkaitan dengan manunggaling elemen kehidupan dan petilasan para leluhur yang pertama kali babad alas (membuka lahan) Cikole.
Titik koordinat ini harus dihormati sebagai jangkar spiritual dan historis agar generasi muda Sukabumi tidak kehilangan kompas identitasnya.
Pusat Kota Sukabumi memiliki transformasi sejarah yang sangat menarik.
Berawal dari sebuah perkampungan kecil yang sunyi di kaki Gunung Gede-Pangrango, kawasan ini berkembang menjadi pusat administrasi dan ekonomi yang sibuk sejak zaman kolonial Belanda.
Berikut adalah rekam jejak perkembangan pusat Kota Sukabumi dari masa ke masa :
1. Masa Awal Dari Kampung Cikole ke Soekaboemi (Sebelum 1815) Sebelum dikenal dengan namanya yang sekarang, kawasan pusat kota Sukabumi dulunya adalah sebuah hunian kecil bernama Kampung Cikole.
Wilayah ini awalnya merupakan bagian dari Kepatihan Tjiandjoer (Cianjur).
Titik Mula Cikole merupakan daerah agraris yang subur dengan pasokan air yang melimpah (sesuai namanya, Ci yang berarti air dan Kole yang berarti jenis pisang hutan).
Lahirnya Nama Sukabumi Pada tanggal 13 Januari 1815, seorang ahli bedah sekaligus tuan tanah asal Belanda bernama Dr. Andries de Wilde mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mengubah nama Cikole menjadi Soekaboemi.
Ada dua versi asal-usul nama ini :
Berasal dari bahasa Sunda Suka (senang/gemar) dan Bumi (tanah/tempat tinggal), yang berarti tempat yang disukai untuk tinggal karena udaranya yang sejuk.
Berasal dari bahasa Sanskerta Sukha (kebahagiaan) dan Bhumi (bumi), artinya bumi yang membawa kebahagiaan.
2. Era Emas Perkebunan dan Jalur Kereta Api (Akhir Abad ke-19) Pusat kota mulai bergeser dari sekadar wilayah pertanian menjadi pusat pertumbuhan ekonomi luar biasa berkat kebijakan Cultuurstelsel (Tanam Paksa) dan pembukaan perkebunan swasta (kopi, teh, dan karet).
Magnet bagi Orang Eropa:** Udara Sukabumi yang dingin menjadikannya tempat peristirahatan favorit bagi para Preangerplanters(pemilik perkebunan kaya).
Revolusi Transportasi (1882):Kehadiran *Stasiun Kereta Api Sukabumi pada tahun 1882 mengubah total wajah pusat kota. Stasiun ini dibangun untuk mengangkut hasil bumi ke Batavia (Jakarta).
Di sekitar stasiun inilah hotel, bank, dan pertokoan modern (seperti di kawasan Jalan Ahmad Yani sekarang) mulai menjamur.
3. Menjadi Kota Otonom / Gemeente (1914) Karena jumlah penduduk Eropa yang semakin banyak dan kebutuhan administrasi yang mendesak, pada 1 April 1914, Pemerintah Hindia Belanda menetapkan Sukabumi sebagai Gemeente (Kotamadya) yang terpisah dari Cianjur.
Sejak saat itulah tata ruang pusat kota modern Sukabumi yang berpusat pada konsep Alun-alun dikokohkan :
Alun-Alun & Masjid Agung: Menjadi pusat ruang publik masyarakat sekaligus simbol religiusitas yang kuat sejak masa lalu.
Balai Kota (Stadhuis): Gedung Balai Kota Sukabumi yang berdiri megah di Jalan Juanda dibangun pada era ini, mencerminkan pusat kendali pemerintahan kolonial yang bergaya arsitektur Indische Empire.
Kawasan Pecinan : Area perdagangan di sekitar Jalan Nyomplong dan Jalan Danalaga berkembang sebagai pusat ekonomi warga Tionghoa yang menyokong kebutuhan logistik kota.
Landmark Sejarah di Pusat Kota Sukabumi Untuk memudahkan Anda membayangkan bagaimana pusat kota ini terbentuk, berikut adalah beberapa lokasi bersejarah yang masih bertahan hingga kini :
Nama Lokasi Saat Ini Fungsi di Zaman Dahulu Nilai Sejarah Alun-Alun Kota Sukabumi ,Alun-alun kota (Braga kecil) Pusat aktivitas sosial warga dan integrasi budaya lokal-kolonial.
Balai Kota Sukabumi Stadhuis (Gedung Kotamadya) Pusat pemerintahan sejak Sukabumi resmi menjadi Gemeente* pada 1914.
Gereja Sidang Kristus Koepelkerk
(Gereja Kubah) Dibangun tahun 1911 untuk peribadatan komunitas Eropa di pusat kota.
Secapa Polri School voor Politie-officieren Sekolah pembentukan perwira polisi yang sudah ada sejak era Hindia Belanda (1927).
Setelah kemerdekaan Indonesia, pusat kota Sukabumi terus mempertahankan strukturnya. Kawasan Alun-alun, Masjid Agung, dan Jalan Ahmad Yani tetap menjadi urat nadi kehidupan kota, hanya saja fungsinya kini sepenuhnya beralih untuk masyarakat lokal.
(Rudy Januar)

