Breaking
▸ Pemerintah Umumkan Kebijakan Baru Ekonomi Digital 2026▸ Indonesia Juara SEA Games Cabang Badminton▸ Harga BBM Turun Mulai Besok▸ KPK Tangkap Tersangka Korupsi Dana Desa▸ Pemerintah Umumkan Kebijakan Baru Ekonomi Digital 2026▸ Indonesia Juara SEA Games Cabang Badminton
Berita Utama

Sinema untuk Semua

Admin28 Oktober 20240 views3 menit baca
Sinema untuk Semua

Sukabumi // Penasakti.com – Agus Permana ia adalah mahasiswa akhir Magister Desain di Telkom University, saat ini tengah melakukan riset dengan topik “Sinema Inklusi”,

Sinema untuk Semua
Sinema untuk Semua

“Sebuah upaya konkrit untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Sukabumi tentang pentingnya inklusivitas, khususnya bagi penyandang disabilitas.

Sinema untuk Semua
Sinema untuk Semua

Penelitian ini didorong oleh kenyataan pahit yang dia saksikan : meski jumlah penyandang disabilitas di Indonesia cukup besar, kesadaran dan aksesibilitas bagi mereka masih sangat minim.

Inklusivitas bukan sekadar jargon atau tren sosial, melainkan esensi kemanusiaan. Sebuah masyarakat dianggap maju ketika setiap individu di dalamnya tanpa terkecuali mendapatkan hak yang setara dan dihargai keberadaannya.

Sayangnya, di berbagai daerah, termasuk Sukabumi, kesadaran akan hal ini masih rendah. Banyak penyandang disabilitas yang terus menghadapi diskriminasi, baik dalam akses pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sosial sehari-hari.

Inilah yang mendorong Agus untuk memilih sinema sebagai medium kampanye sosial.

Saya yakin, film memiliki kekuatan luar biasa untuk menyentuh emosi dan pikiran masyarakat. Film bukan hanya alat hiburan, tetapi juga media yang mampu mengubah persepsi dan menumbuhkan empati.

Ketika seseorang menonton film yang menyuarakan isu inklusi, mereka tidak hanya melihat cerita, tetapi juga merasakan realitas yang mungkin selama ini tidak mereka sadari atau bahkan abaikan.

Namun, Agus juga menyadari bahwa penggunaan film dalam konteks inklusi bisa menjadi pedang bermata dua. Jika tidak dibuat dengan pemahaman yang mendalam tentang disabilitas dan inklusivitas, film justru bisa memperkuat stigma negatif.

Karena itu, dalam penelitian ini, saya menganalisis dengan seksama elemen-elemen sinematik yang diperlukan untuk menyampaikan pesan inklusi secara efektif.

Saya juga melakukan wawancara mendalam dengan para pembuat film, komunitas Inklusi Film Indonesia, serta ahli dan mengadakan diskusi kelompok terarah (FGD) dengan masyarakat Sukabumi untuk mengetahui bagaimana persepsi mereka terhadap film yang menyuarakan isu disabilitas.

Yang saya temukan adalah, banyak masyarakat yang belum memahami konsep inklusi secara utuh. Mereka masih terjebak dalam stereotip dan kesalahpahaman mengenai penyandang disabilitas.

Di sinilah pentingnya sinema inklusi. Saya percaya, sinema inklusi bukan hanya solusi untuk meningkatkan kesadaran, tetapi juga sebagai alat yang dapat meruntuhkan dinding-dinding stigma yang telah lama mengisolasi para penyandang disabilitas dari kehidupan sosial yang setara.

Melalui penelitian ini, saya berharap dapat memberikan panduan yang jelas kepada para sineas tentang bagaimana merancang dan memproduksi film yang inklusif.

Ini bukan hanya soal representasi yang lebih baik, tetapi juga soal bagaimana film dapat membangun pemahaman yang lebih dalam dan komprehensif tentang inklusi.

Dengan melibatkan masyarakat dalam proses produksi dan konsumsi film, kita bisa mendorong mereka untuk menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton yang pasif.

Sinema inklusi bagi saya adalah sebuah Gerakan, sebuah ide besar, dan sebuah panggilan untuk mengubah cara kita memandang satu sama lain melalui sinema, menghargai perbedaan, dan menciptakan masyarakat yang lebih peduli, adil, dan inklusif.

Untuk mengkampanyekan dan mendokumentasikan Gerakan ini saya menggunakan media Instagram dengan nama akun @sinema.inklusi.

Daerah Sukabumi, seperti halnya banyak daerah lain di Indonesia, membutuhkan perubahan ini, dan saya yakin sinema dapat menjadi salah satu katalis yang menggerakkan perubahan tersebut.

(Rudy Januar)