Sunda Punya Cerita, Botram Tradisi Turun Temurun Bertahan Hingga Masa Modern
Garut – Penasakti.com // Botram merupakan salah satu tradisi turun-temurun masyarakat Sunda yang merepresentasikan nilai kebersamaan dan kekeluargaan.
Istilah botram merujuk pada kegiatan makan bersama yang biasanya dilakukan secara lesehan di alam terbuka, yang seringkali dengan membawa bekal makanan masing-masing atau dimasak bersama-sama yang dikenal dengan istilah ngaliwet.
Tradisi ini tidak hanya sekadar acara makan bersama, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat hubungan antar anggota masyarakat, keluarga, atau teman.
Cara penyajian Botram ini tergolong unik, makanan biasanya disajikan secara sederhana di atas daun pisang sehingga menciptakan suasana santai dan akrab yang menciptakan kebersamaan serta mempererat tali silaturahmi.
Keunikan tradisi botram terletak pada cara penyajian, nasi, lauk-pauk, sayuran, dan sambal disusun berjejer diatas daun pisang, dan semua peserta akan makan bersama dengan duduk memutari daun pisang tersebut.
Semua peserta botram akan merasakan kedudukan yang sama karena botram menggambarkan konsep kebersamaan yang kuat, di mana setiap orang berbagi apa yang ada tanpa memandang status sosial dan tanpa piring yang biasanya hadir sebagai pembatas status sosial.
Botram biasanya dilakukan dalam berbagai kesempatan, salah satunya yakni moment setelah hari raya Idhul Fitri seperti yang dilakukan keluarga besar Aki Abidin di Kampung Sadangsari, Desa Mandalasari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat ini.
Satu keluarga besar yang tidak bisa berkumpul setiap hari dan bahkan mungkin hanya di moment tertentu ini, melaksanakan acara botram yang tidak mengutamakan aturan formal mengenai siapa yang harus menyajikan makanan, karena semua orang berkontribusi.
”botram kali ini menjadi moment nostalgia bagi kami sekeluarga, ada yang dari bandung, Jawa Timur, Banten, semua ngumpul, pokoknya seru,” ujar Yayah kepada Penasakti.com Senin ( 23/03/2026 ).
Meski telah masuk era modern, namun, tradisi botram tidak pernah benar-benar luntur bagi masyarakat Sunda. Bahkan, upaya untuk melestarikan tradisi ini terus dilakukan, baik melalui komunitas budaya maupun acara-acara rekreasi keluarga.
Keluarga besar Aki Abidin ini, mencoba mengadaptasi tradisi botram ke dalam bentuk yang lebih praktis, yakni makan bersama di rumah dengan menyusun makanan di atas daun pisang. Meskipun suasananya berbeda, esensi dari botram tetap terjaga, yaitu kebersamaan dan kebahagiaan.
Botram merupakan contoh nyata tentang pentingnya menjaga hubungan sosial yang erat ditengah kehidupan modern yang serba individualis dengan segala nilai dan filosofi yang terkandung didalamnya.
Tradisi ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu berasal dari hal-hal besar atau mewah, tetapi dari momen sederhana yang dibangun bersama orang-orang terdekat, seperti yang dilakukan keluarga Aki Abidin di Kecamatan Kadungora Kabupaten Garut ini.
Keluarga besar Aki Abidin ini, mampu menunjukkan bukti bahwa tradisi lokal memiliki kekuatan untuk mempererat hubungan manusia, sekaligus menjadi simbol persatuan dalam keberagaman.
”kami bukan tidak punya masalah, tapi kami berusaha melupakan agar botram dapat berjalan seperti apa yang diwariskan nenek moyang kami,” pungkas Yayah.
( Penulis: Agus YL )
Sunda Punya Cerita, Botram Tradisi Turun Temurun Bertahan Hingga Masa Modern
Admin23 Maret 20260 views3 menit baca

