Breaking
▸ Pemerintah Umumkan Kebijakan Baru Ekonomi Digital 2026▸ Indonesia Juara SEA Games Cabang Badminton▸ Harga BBM Turun Mulai Besok▸ KPK Tangkap Tersangka Korupsi Dana Desa▸ Pemerintah Umumkan Kebijakan Baru Ekonomi Digital 2026▸ Indonesia Juara SEA Games Cabang Badminton
BERITA

Swakelola Diduga Akal-Akalan, Proyek P3-TGAI di Leles Garut Disorot! Mandulnya Padat Karya, Petani Tersingkir dari Rumah Sendiri

admin penasakti25 Juli 20260 views4 menit baca
Swakelola Diduga Akal-Akalan, Proyek P3-TGAI di Leles Garut Disorot! Mandulnya Padat Karya, Petani Tersingkir dari Rumah Sendiri

Swakelola Diduga Akal-Akalan, Proyek P3-TGAI di Leles Garut Disorot! Mandulnya Padat Karya, Petani Tersingkir dari Rumah Sendiri


‎Garut – Penasakti.com // Aroma ketidakberesan menyengat pelaksanaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi ( P3-TGAI ) di Desa Kandangmukti, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Swakelola Diduga Akal-Akalan, Proyek P3-TGAI di Leles Garut Disorot! Mandulnya Padat Karya, Petani Tersingkir dari Rumah Sendiri
Swakelola Diduga Akal-Akalan, Proyek P3-TGAI di Leles Garut Disorot! Mandulnya Padat Karya, Petani Tersingkir dari Rumah Sendiri

‎Proyek stimulus ekonomi berbasis infrastruktur pertanian ini diduga gagal memenuhi esensi utamanya memberikan lapangan kerja sementara bagi petani pemakai air.

Swakelola Diduga Akal-Akalan, Proyek P3-TGAI di Leles Garut Disorot! Mandulnya Padat Karya, Petani Tersingkir dari Rumah Sendiri
Swakelola Diduga Akal-Akalan, Proyek P3-TGAI di Leles Garut Disorot! Mandulnya Padat Karya, Petani Tersingkir dari Rumah Sendiri

Pantauan di lokasi menunjukkan aktivitas pembangunan terus berjalan, namun wajah-wajah petani lokal yang seharusnya menjadi motor utama pengerjaan justru absen.

‎”Kami tidak tahu itu anggaran dari mana dan berapa detailnya karena akses informasi sangat tertutup. Kami butuh airnya, tapi kami juga butuh pekerjaan di musim sulit seperti ini. Kenapa pekerja dibawa dari luar, bukan kami?” cecar warga sekitar lokasi pembangunan.

‎Dua titik pengerjaan di bawah kendali Kelompok P3A Mekarmulya dan Kelompok P3A Tamiang Kuning kini berada di bawah sorotan tajam publik akibat aroma penyimpangan yang menyolok mata.

‎Bukannya memberdayakan warga lokal dan anggota kelompok tani setempat, proyek swakelola ini justru kedapatan menggunakan tenaga kerja dari luar.

‎Keburukan tata kelola ini semakin telanjang tatkala pelaksana proyek dari P3A Mekarmulya dikabarkan sempat melarikan diri setelah mutu fisik bangunan dilaporkan hancur lebur akibat tak tahan diterjang aliran air.

‎Alih-alih dievaluasi secara transparan, posisi pelaksana tersebut kini sekedar diganti secara senyap tanpa memperbaiki akar masalah akuntabilitasnya.

‎”Yang Mekarmulya sudah hancur kena air, kabarnya pemborongnya kabur, sekarang diganti orang baru katanya dari wilayah selatan, Singajaya kalau nggak salah”, ujar salah satu warga kepada Penasakti.com Sabtu ( 25/06/2026 ).

‎Namun, cacat paling ironis dari proyek ini terletak pada pemandangan di lapangan. Alih-alih melihat peluh dan wajah lelah para petani yang bergelut dengan lumpur demi memperbaiki saluran air sawah mereka sendiri, yang tampak di dua lokasi proyek tersebut justru deretan wajah para perangkat desa.

‎Para aparatur pemerintah desa ini diduga kuat mengabaikan kewajiban moral dan tugas pokoknya sebagai pelayan publik demi turun langsung berkecimpung meraup porsi di dalam proyek yang semestinya menjadi daulat mutlak kaum tani.

‎Kondisi ini menyiratkan bahwa P3-TGAI di Kandangmukti tidak lebih dari sekadar pelangsir anggaran yang kehilangan ruh pemberdayaannya.

‎Ketika pelayan masyarakat beralih fungsi menjadi tukang garap proyek berkedok swakelola petani, di situlah integritas pembangunan pedesaan di Garut dipertaruhkan.

‎Informasi yang dihimpun Tim Liputan Penasakti.com semakin memperkeruh sengkarut proyek ini. Program P3-TGAI di Desa Kandangmukti ini disebut-sebut turun melalui jalur aspirasi salah satu Partai Politik.

‎Namun, alih-alih berjalan transparan demi konstituen, dalam pelaksanaannya diduga kuat ada campur tangan dari oknum pengusung yang mengendalikan proyek di balik layar.

‎Situasi ini disinyalir menjadi pemicu tersingkirnya para petani lokal dari daftar pekerja, demi mengakomodasi kepentingan kelompok tertentu.

‎Kondisi lapangan yang timpang dengan petunjuk teknis (juknis) kementerian ini kini memicu sorotan tajam dari berbagai elemen masyarakat. Mereka mendesak Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP) serta instansi terkait segera turun tangan melakukan audit investigatif.

‎Transparansi penggunaan anggaran dan kepatuhan terhadap juknis pelibatan masyarakat harus diusut tuntas agar program kerja pemerintah tidak dijadikan ladang bancakan oknum tertentu.

‎Sesuai aturan baku P3-TGAI, seluruh dana yang dikucurkan harus mengalir langsung ke masyarakat desa dalam bentuk upah kerja (HOK) dan material secara transparan.

‎Pengalihan pengerjaan kepada segelintir orang di luar skema pemberdayaan masyarakat merupakan pelanggaran berat terhadap kontrak kerja swakelola.

‎Inspektorat Daerah dan pendamping program dituntut segera mengevaluasi izin dan pencairan dana proyek tersebut sebelum potensi kerugian negara semakin membengkak.

‎Hingga berita ini diturunkan, pihak Kelompok Tamiang Kuning dan Mekarmulya, pihak pengusung, maupun instansi terkait belum memberikan keterangan resmi. Tim Liputan Penasakti.com masih terus berupaya melakukan klarifikasi dan konfirmasi demi tegaknya keberimbangan informasi.


‎( Penulis: Agus YL )